Friday, April 15, 2022

author photo

Daftar isi [Tampil]

Ragam bahasa daerah yang berada di Indonesia sangat menarik untuk dipelajari. Salah satunya adalah Bahasa Sunda. Ketika belajar bahasa daerah tersebut, maka Anda juga perlu mempelajari aksara Sunda. Lantas, apa yang dimaksud dengan aksara Sunda?

cara mudah belajar aksara sunda
cara mudah belajar aksara sunda

Aksara Sunda Baku terdiri dari 32 aksara dasar, yaitu 7 aksara swara (aksara vokal mandiri): a, é, i, o, u, e, dan eu, dan 23 aksara ngalagéna (konsonan berbunyi a): ka-ga-nga, ca-ja-nya, ta-da-na, pa-ba-ma, ya-ra-la, wa-sa-ha, fa-va-qa-xa-za.


Aksara Sunda merupakan suatu bentuk peninggalan budaya yang sangat berharga bagi warga masyarakat Tatar Sunda. Maka dari itu, aksara tersebut harus senantiasa dilestarikan agar anak cucu kelak masih bisa mengenal warisan kebudayaan Tatar Sunda tersebut. Untuk mempelajari aksara Sunda lebih dalam, kamu bisa menggunakan alat translate aksara Sunda - latin dari SebuahUtas berikut ini.

translate huruf aksara sunda dengan fitur tombol autocopy dari sebuahutas
translate huruf aksara sunda dengan fitur tombol autocopy dari sebuahutas

Pengertian Aksara Sunda Nyaeta

Bahasa Sunda menjadi salah satu bahasa yang sangat menarik untuk dipelajari. Saat seseorang belajar bahasa tersebut, tentu harus mempelajari aksaranya juga. Aksara Sunda merupakan aksara atau huruf yang digunakan dalam penulisan kata berbahasa Sunda.


Kaidah penulisannya sendiri tidak jauh berbeda dari Aksara Jawa, yang diawali dari huruf ‘ha’ dan diakhiri menggunakan huruf ‘nga’. Jenis huruf Sunda sendiri terdiri dari empat macam yaitu Aksara Sunda Kuno, Sunda Pegon, Cacarakan, serta Baku.

Belajar Aksara Sunda Kaganga (Buhun)

Nama huruf Sunda yang akan dipelajari adalah Kaganga atau yang familiar dengan sebutan Sunda Buhun. Aksara ini terdiri dari 32 huruf dan dibagi menjadi dua bagian utama yaitu 7 bunyi vokal mandiri (Aksara Swara) dan 25 huruf mati (konsonan/Aksara Sunda Ngalagena).

1. Aksara Sunda Swara

Aksara Sunda Swara
Aksara Sunda Swara

Aksara Sunda memiliki 7 bunyi vokal yang berbeda dari huruf vokal bahasa Indonesia yang terdiri dari 5 bunyi vokal saja. Jadi, selain bunyi a, i, u, e, o ternyata juga ada tambahan seperti eu dan é. 


Tentunya bagi warga masyarakat Sunda sudah terbiasa dengan penyebutan kedua huruf vokal tambahan tersebut. Mungkin bagi Anda yang baru belajar, masih merasa bingung untuk pelafalannya. 


Jadi, untuk huruf vokal é dibaca seperti Anda mengucapkan kata ‘Lele’. Kemudian, untuk huruf  vokal eu dibaca seperti Anda membaca ‘Peuyeum’.


  • Aksara Swara ‘a’ contohnya anyar (baru), tiasa (bisa), dan sia (lo/kamu).
  • Aksara Swara ‘i’ contohnya ucing (kucing), daun, dan bau.
  • Aksara Swara ‘é’ contohnya élang, daék (bersedia) dan saé (bagus).
  • Aksara Swara ‘eu’ contohnya eusi (isi), baeud (marah), dan ieu (ini).
  • Aksara Swara ‘o’ contohnya oray (ular), naon (apa), dan néo.
  • Aksara Swara ‘u’ contohnya udah, udin, dan usang.

2. Aksara Sunda Ngalagena

Aksara Sunda Ngalagena
Aksara Sunda Ngalagena

Aksara Sunda Ngalagena atau konsonan mati berjumlah 25 yang sangat familiar untuk percakapan sehari-hari. Aksara ini tersusun dari 18 huruf untuk bunyi paling utama (Sunda asli) serta ditambah dengan 7 bunyi serapan sehingga membuatnya ditotal menjadi 25 huruf.


Untuk bunyi utama terdiri dari ka, ga, nga, ca, ja, nya, ta, da, na, pa, ba, ma, ya, ra, dan la. Kemudian untuk bunyi serapan sebagai pelengkap aksara ini diantaranya –fa, -qa, -va, -xa, -za, -kha, dan –sya. Hampir tidak pernah ditemukan huruf f, v, dan x.


Hal tersebut membuat banyak orang mengatakan bahwa orang Sunda tidak dapat mengucapkan kata yang berawalan dengan huruf-huruf tersebut. Misalnya, ‘fitnah’. Seringkali orang Sunda justru menyebutnya dengan ‘pitnah’.

3. Rarangkén Aksara Sunda

Rarangkén Aksara Sunda
Rarangkén Aksara Sunda

Tahukah Anda bahwa bunyi dasar ‘a’ pada setiap konsonan dapat berubah menjadi i, u, é, e, eu, dan o. Tentunya dengan bantuan dari Rarangkén. Istilah ini sendiri merujuk kepada jenis sisipan. Dalam aksara bahasa daerah ini, Rarangkén dibagi menjadi 14 jenis yang cukup mudah dipahami.

a. Rarangkén Luhur

Rarangkén Luhur terdiri dari 5 jenis yang semuanya ditulis di bagian atas huruf konsonan (Ngalagena). Kelima Rarangkén tersebut cukup mudah untuk dipelajari, di antaranya:


  • Panghulu, untuk mengubah bunyi ‘a’ menjadi ‘l’.
  • Pamepet, untuk mengubah bunyi ‘a’ menjadi ‘e’.
  • Panglayar, untuk menambahkan bunyi ‘+r’ di akhir kata.
  • Paneuleung, untuk mengubah bunyi ‘a’ menjadi ‘eu’.
  • Panyecek, untuk menambah bunyi ‘+ng’ pada akhir kata.

b. Rarangkén Handap

Rarangkén Handap maksudnya di bawah. Jadi, penulisan aksaranya berada di bawah huruf konsonan dan terdiri dari tiga jenis, yaitu:


  • Panyuku, untuk mengubah bunyi ‘a’ menjadi ‘u’.
  • Panyakra, guna menambah sisipan ‘+r’ di antara konsonan serta vokal.
  • Panyiku, guna menambah sisipan ‘+l’ di antara konsonan dan vokal.

c. Rarangkén Sajajar

Terakhir, Rarangkén Sajajar. Jenis sisipan ini ditulis sejajar dengan huruf konsonan dan terdiri atas lima macam. Beberapa di antaranya:


  • Panéleng, berguna untuk mengubah bunyi ‘a’ menjadi ‘e’.
  • Pamingkal, berfungsi untuk menambah bunyi sisipan ‘+y’ di antara vokal dan konsonan.
  • Panolong, berguna untuk mengubah bunyi ‘a’ menjadi ‘o’.
  • Pamaéh, berfungsi untuk membuat huruf konsonan menjadi mati.
  • Pangwisad, berguna untuk menambah bunyi ‘+h’ di akhir kata.

Sebetulnya, mempelajari aksara dari Tanah Sunda dari Autobild.co.id ini tidak terlalu sulit untuk dilakukan. Hanya saja membutuhkan sedikit kecermatan dan ketekunan ketika mempelajari aksara ini. Pelajarilah dengan baik dan lestarikan aksara ini agar kelak masih bisa dipelajari oleh generasi mendatang.

Next article Next Post
Previous article Previous Post
 
×